
Pagerwangi Farmers Alliance (ATAP)
Program
Agrarian Reform Education and Production Management to Realize Advanced Agrarian Reform Villages (DAMARA) in West Bandung Regency
Responsible Organization
Venues
Direct Funding
Period
Start
End
Target
Status
Share to :
Inisiatif Aliansi Petani Pagerwangi untuk Akses Air
Secara turun-temurun masyarakat di Desa Pagerwangi telah menduduki lahan eks erfpacht kolonial Belanda seluas 10 hektare. Secara keseluruhan ada 78 kepala keluarga (KK) yang tinggal di Desa Pagerwangi. Mayoritas masyarakat berprofesi sebagai petani dan wiraswasta di bidang warung makan. Pada 2017, masyarakat harus menghadapi intimidasi dan ancaman dari perusahaan pengembang perumahan yang menginginkan tanah masyarakat di Desa Pagerwangi. Karena itulah mereka mendirikan Aliansi Petani Pagerwangi (ATAP) sebagai wadah untuk berkumpul sekaligus menyusun rencana dan strategi kolektif guna menghadapi problem bersama. Selain persoalan ancaman perampasan ruang hidup, selama ini masyarakat Desa Pagerwangi juga kesulitan untuk memenuhi kebutuhan air.
Untuk mengatasi permasalahan bersama tersebut, ada 3 kegiatan yang dilaksanakan oleh ATAP dan masyarakat Desa Pagerwangi, yaitu pembuatan sumur bor, penanaman tanaman keras produktif, dan pendidikan reforma agraria. Pembuatan sumur bor dimaksudkan sebagai solusi pemenuhan kebutuhan air masyarakat. Selama ini, masyarakat harus mengeluarkan biaya sebesar Rp600.000 per bulan untuk membeli air sebanyak 8 ribu liter. Untuk mendukung upaya konservasi air, masyarakat juga melakukan penanaman 24 bibit pohon durian dan alpukat. Pohon keras produktif dipilih juga untuk menambah pendapatan masyarakat dengan menjual buahnya. Terakhir, pendidikan reforma agraria dilaksanakan untuk meningkatkan pemahaman anggota ATAP terkait tata produksi, tata kelola, distribusi dan konsumsi selama penguasaan lahan.
Dari ketiga kegiatan tersebut berimplikasi secara aspek sosial sebesar 15.693 jiwa dengan rincian meliputi 6.062 laki-laki, 5.709 perempuan, dan 3.922 generasi muda. Terkait inisiatif pembuatan sumur bor ada pengurangan terhadap pengeluaran 78 KK sebesar Rp561.600.000 per tahun. Inisiatif penanaman durian dan alpukat menyimpan nilai ekonomi sebesar 60 juta rupiah per tahun, dengan catatan panen dilakukan pada usia 4 tahun setelah penanaman. Pada aspek lingkungan, kegiatan penanaman itu juga berdampak pada wilayah seluas 592 hektare.




